Laman

Sunday, October 15, 2017

Film Keluarga "My Generation"

Film My Generation
Sumber Instagram @myGfilm

Halo apa kabar, saya mau cerita tentang masa remaja saya. Bukan untuk membandingkan dengan sekarang lho. Sebenarnya gak beda jauh dengan sekarang masalah kenakalan remaja, krisis percaya diri, hanya saja bedanya sekarang zaman serba digital jadi apa saja bisa viral dan diketahui publik. Zaman saya remaja juga sudah banyak kok remaja yang terkena narkoba misal ganja, pil ekstasi, tetapi sekarang sudah makin banyak jenis narkobanya.
Untuk kenakalan remaja lainnya seperti merokok, zaman saya SMP tahun 1994-1997 sudah ada sih yang merokok sambil sembunyi-sembunyi. Saya sering lihat di kantin belakang sekolah sebagian anak laki-laki merokok tanpa sepengetahuan guru. Jika dibandingkan dengan sekarang memang lebih parah, anak usia SD sudah banyak yang merokok. Pernah saya seangkot dengan anak yang merokok, spontan dong saya tegur karena asapnya sangat mengganggu.
Trailer Film My Generation
Sumber You Tube

Lanjut ke masa saya SMK tahun 1997-2000, kebetulan waktu itu saya sekolah di Bangka ikut kakak yang menjadi guru di sana. Saat itu saya tinggal di kota Sungailiat dan banyak teman-teman saya yang indekos karena rumah mereka jauh dari kota. Terkadang saya merasa iri melihat teman-teman bebas ke pantai baik setiap hari libur ataupun malam minggu. Sedangkan saya hanya di rumah membaca majalah atau menonton televisi. Tetapi hal buruknya adalah banyak teman saya yang tidak menyelesaikan sekolah tingkat SMU karena hamil di luar nikah atau MBA (married by accident).
Nah ngomongin soal kenakalan remaja apa sih penyebabnya? Setelah menjadi ibu, saya mulai belajar tentang apa yang bisa dilakukan agar anak saya nanti tidak salah langkah. Apa yang harus dilakukan agar anak mau bicara terbuka dengan saya? Apa yang harus dilakukan agar saya bisa menjadi sahabat terbaik untuk anak? Yaelah pertanyaannya banyak banget. Saya melihat keluarga kerabat yang anaknya sukses menjadi sarjana, dan anaknya memang rajin belajar dan berprestasi tanpa disuruh atau diomelin. Langsung ingat saya yang suka ngomel kalau Bilqis malas belajar. Ternyata yang paling utama agar anak menjadi baik dimulai dari keluarga dan kasih sayang kedua orang tuanya.


Mba UPI dan para pemeran film My Generation
Oke baiklah, kabarnya mbak Upi sutradara yang sudah banyak membuat film bagus, dan salah satunya membuat film My Generation yang akan tayang 9 November 2017 di bioskop Indonesia. Film yang menceritakan hubungan antara orang tua dan anak. Film ini bercerita tentang 4 orang remaja dengan karakteristik dan problematika masing-masing Orly, Suki, Konji, dan Zeke. Singkat ceritanya karena ada satu hal mereka tidak bisa mengikuti studi tur untuk berlibur satu geng. Dalam kesempatan tersebut banyak kejadian yang membuka mata mereka. Pergaulan bebas, perilaku menyimpang menjadi kisah pelik yang nyata dalam kehidupan.
Para pemeran film My Generation adalah pemain baru. Karakter Orly diperankan oleh Alexandra Kosasi adalah perempuan yang kritis, pintar dan berprinsip. Ia sedang dalam masa pemberontakan akan kesetaraan gender dan hal-hal lain yang "melebeli" kaum perempuan.
Arya Vasco sebagai Konji memerankan pemuda polos dan naif yang tengah mengalami dilema dengan masa pubertasnya. Ia merasa ditekan oleh aturan orang tuanya yang kolot dan 'overprotective'. Hingga ada satu peristiwa yang membuat shock, hal ini membuat kepercayaannya pada orang tuanya hilang. Dan Konji balik mempertanyakan moralitas orang tuanya yang kontradiktif dengan semua peraturan yang mereka tuntut terhadap Konji.
Bryan Langelo sebagai Zeke memerankan seorang pemuda yang 'rebellious' tapi juga 'easy going' dan sangat loyal pada sahabat-sahabatnya, ternyata memendam masalah yang sangat besar dan menyimpan luka yang dalam di hatinya. Zeke merasa orang tuanya tidak mencintainya dan tidak menginginkan keberadaannya sebagai anak sejak kecelakaan yang menimpa adiknya. Untuk menyembuhkan luka yang dipendamnya, Zeke berani mengkonfrontasi orang tuanya dan membuka pintu komunikasi yang selama ini terputus.
Sedangkan karakter Suki yang diperankan oleh Luttesha adalah seorang perempuan paling cool diantara teman-temannya. Selayaknya anak muda pada umumnya Suki memiliki krisis kepercayaan diri yang berusaha ia sembunyikan. Tapi krisis kepercayaan dirinya semakin besar seiring dengan sikap orang tuanya yang selalu berfikir negatif padanya.



Sutradara Upi melalui film My Generation mengajak kita para orang tua hendaknya dapat membuka mata dan membuat metode untuk merangkul anak-anaknya. Melihat trailer film My Generation saya mengakui kejadian memang ada di sekitar kita dan terkadang ditutupi. Pada dasarnya anak berkesempatan untuk mengembangkan kreasi mereka tanpa terpojok oleh aturan otoriter. Sama seperti saya dulu seharusnya boleh menikmati masa remaja ke pantai dengan tetap diberi tanggung jawab. Kita bukan hidup di zaman batu, media sosial yang sangat mudah diakses anak-anak bisa kita pantau.


Blogger yang hadir di acara Presscon

Jadi gak sabar untuk nonton film My Generation. Semoga melalui film karya mba Upi ini saya sebagai orang tua mempunyai pemikiran yang lebih terbuka dalam mendidik anak anak. Tapi tetap tidak melanggar norma agama pastinya. Saya harus bisa menjalin kedekatan dengan anak-anak saya, agar nantinya mereka menjadi orang yang sukses dan bahagia di masa depannya. Hayuklah kita nobar, ajak ibu-ibu arisan juga.

31 comments:

hellofika said...

Entahlah kalau disuruh cerita ttg masa remaja, aku kayaknya remaja yg standar ya. Juara kelas, utusan sekolah untuk perlombaan,dan segudang prestasi lainnya nggak banyak ulah, ya biasa aja lah.. STD banget..krn anak anak jenis ini sering dicap ga gaul. Dosa ku itu paling datang terlambat, dan pernah minggat pas acara isra mijraj, itu doang sih. Bedanya mungkin aku sudah mandiri sejak smu krn sudah bisa menghasilkan pundi pundi uang untuk membantu ibuku menafkahi keluarga. Aku jualan kue di sekolah.

tp itu kan dulu ga ada internet dan segudang hal negatif kalau kita jadi korban teknologi. Kalau skrg jd org tua ya harus waspada, harus jadi teman sekaligus mengayomi anaknya (teorinya gitu) supaya anak2 kita nanti ga kebablasan.. Ga jd anak anak korban salah asuh org tua.. Dan korban salah pergaulan

hida said...

Dulupun saya mengalami masa-masa pemberontakan seperti sosok Konji. Rasanya gak banget deh, kalo mau kemana2 gak boleh, mau ini itu dilarang. Tapi sepertinya emang harus ada komunikasi yang baik antara ortu dan remaja hingga remaja gak salah jalan. Yuuk jadi sahabat tuk anak remaja kita, agar mereka juga nyaman berdiskusi dan mengeluarkan isi hati dan aspirasi mereka.

Indrifairy Isharyanti said...

Masa remaja saya sih kebanyakan di pingit. Sekolah diantar jemput, nongkrong di kantin aja jarang. Mungkin itu cara ibuku merangkul dan menjaga anak-anaknya tetap dalam pengawasan. Jadi kepo juga sama filmnya mba upi

sifora septia mangamis said...

waktu remaja juga kaya gitu mba,, suka memberontak karna merasa benar padahal mah salah hehehe maklum usia muda lagi senang-senangnya meluapkan semua keinginan, terus juga cari-cari perhatian aduh jadi curcol deh

Evi Fadliah said...

Melihat maraknya film remaja saat ini, memang cukup diminati oleh penonton Indonesia siyy. Meskipun genre benyak yg mengangkat tema persahabatan, percintaan, keluarga.

Nah, entah niyy Mba Upi mengemas film ini seperti apa? Apakah mewakili fenomena kids zaman noww.. Jadi Kita tungguin aja dech, keseruannya seperti apa nanti.

Riyardiarisman said...

Kalaubsutradaranya UPI, wajib banget deh film ini buat ditunggu, apalagi filmnya 'generasi aku banget'wkwkwkw

lubena ali said...

Ngeliat remaja jaman now emang kadang harus sering ngurut dada, tapi ga menutup kemungkinan kalau itu juga bakal terjadi pada anak kita, kuncinya emang komunikasi dan do'a kita.

mpo ratne said...

Beda zaman pasti beda prilaku. Makanya jadi orangtua di tuntut mengetahui prilaku anak zaman sekrang. Yuk kita nonton

Ria Handayani said...

Ga gaul bukan masalah ya mba Fika, yang penting berprestasi.

Ria Handayani said...

Kita mengikuti zaman ya mba Hida, jangan sampai anak kita tidak bahagia karena cara mendidik yang salah. Tapi tetap harus mengikuti norma agama.

Ria Handayani said...

Anak mama banget ya dirimu, tapi jadi anak baik kan, ga membangkang ?

Ria Handayani said...

Hehehhe sekarang harus siap, mendidik anak kita. Semoga mereka ga jadi pembangkang ya.

Ria Handayani said...

Wah iya pas banget nih di tonton para remaja, tapi diambil baiknya buang jauh-jauh buruknya.

Ria Handayani said...

Cie cie cie yang anak jaman now, pasti wajib nonton film my Generation ini.

Ria Handayani said...

Iya ya harus dibantu Do'a juga suapaya anak kita ga salah langkah, dan kita di beri kemudahan mendidiknya.

Ria Handayani said...

Mudah-mudahan bisa nobar ya Mpok. Jadi ga sabar nunggu film ini.

Hanni Handayani said...

udah liat thrillernya , jadi pengen mo nonton filmnya . Genrenya beda dari yang lain

Novitania Pambhudi said...

Kalo inget masa remaja, rasanya pengen diulang, banyak waktu remaja yg kayanya terbuang buang, dan ada hal hal yg pengen lagi diulang, makanya ga sabar nonton film ini biar bs flash back sama masa masa remajakuhh 😊

Ovianty _ said...

Beneran tuh mba, 1997-2000 udah ada yang MBA siswa SMK? Ya ampun, serem juga ya zaman segitu.
Ini cuma gara-gara gagal study tour, bisa berpetualang se-gank? Wuihh, anak sekarang kreatif dan.kritis ya. Zaman dulu, gagal study tour mah tidur aja di rumah, atau nonton tipi seharian, hehe..

Tika said...

Jadi teringat kenakalan waktu jaman sekolah dulu. Meskipun dag dig dug serrrr melakukannya. Yang pasti berbeda banget dengan anak jaman sekarang yg serba digital.

Sie-thi Nurjanah said...

Film ini mengangkat real banget generasi kekinian, remaja yg rentan dan cenderung mengagungkan kebebasan. Semoga bisa sukses dan menjadi inspirasi bagi penontonnya nanti

Lia Lathifa said...

Aku juga mengalami setelah menjadi ibu, lebih down to earth apalagi thd remaja skrg, gak bisa lagi dgn gaya otoriter bla bla, mereka lbh lihai apalagi skrg ada gadget

Melysa Luthiasari said...

Itu kayaknya mereka berempat ga bisa ikut studi tour karena dilarang orangtuanya kali yak... Eh ko jd menebak2. Hehehe...harus nonton dulu ini, biar ga penasaran.

Ria Handayani said...

Wah iya seru kali ya nobar film My Generation.

Ria Handayani said...

Kalau kita galak malah jadi rame ya, harus dengan cara yang lembut supaya mereka paham maksud kita.

Ria Handayani said...

Ngeri-ngeri sedap lihat kelakuan kidz jaman now.

Ria Handayani said...

Tapi tetap ada anak-anak baik diantara anak yang salah langkah berkat dukungan keluarga.

Dewi Nuryanti said...

Film ini tdk bs dibilang memggambarksn kehidupan remaja zaman now secara global. Karena faktanya, bnyk pula kehidupan remaja zaman now yg penuh nilai kebaikan dan prestasi. Jd tdk digeneralisir berdasarkan film ini saja.

Ria Handayani said...

Tak setuju Kaka, masih banyak anak yang baik dan berprestasi di jaman sekarang.

Nita Lana Faera said...

Iya sih sebenernya baik remaja jaman dulu, yg kurang baik pun ada, walau socmed mungkin belum betaburan kayak sekarang. Di tengah jaman penuh gadget dan socmed kayak sekarang, remaja yg baik2 pun nggak kalah banyak. Ortu, guru, dan keluarga dekat lainnya memang sangat berperan sih untuk pembentukan karakter anak dan remaja.

So far kalau baca review Mba Ria, baiknya film ini ditonton remaja bersama ortu juga.

Sie-thi Nurjanah said...

Setahu saya, beberapa film mba UPI ritmenya hampir sama. Tp seperti ada pesan yg ingin coba disampaikan.
Termasuk film ini, karena ke 4 sahabat ini nampaknya akan menemui hal2 yg merubah 'ego' mereka