Jumat, 22 April 2022

Pentingnya Literasi untuk Peningkatan Gizi Anak


Waktu anakku masih usia di bawah dua tahun pernah mengalami gerakan tutup mulut. Sempat cemas takut gizinya kurang karena seperti kita ketahui asupan makanan yang tidak sesuai kandungan gizi dapat menyebabkan pertumbuhan kognitif dan fisik anak terganggu. Hal ini menjadi penyebab yang tak pernah putus.

Selalu bermunculan kasus-kasus baru yang berkaitan dengan anak kurang gizi hingga stunting. 


Senang sekali kemarin saya bisa ikut bergabung di Webinar Nasional YAICI + PP AISYIYAH dengan Tema  "Guru PAUD Sebagai Jembatan Bagi Peningkatan Literasi Gizi Keluarga". 

Dengan narasumber Paparan dan Diskusi 

1. Arif Hidayat, SE.,MM., Ketua Harian YAICI 

2. Prof.Dr. Masyitoh Chusnan, M.Ag.,  Ketua PPA 

3. dr. Cut Nurul Hafifah, Sp.A (K)

4. Prof.Dr.Ir. Netty Herawati.,M.Si., Ahli Gizi dan Praktisi Pendidikan PAUD 

 

Moderator: Gustara




Pemaparan dari Pak Arif Hidayat 

Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 prevalensi stunting menunjukkan penurunan dari 27,7% 2019 menjadi 24,4%. Namun, prevalensi underweight mengalami peningkatan dari 16,3% menjadi 17%. Apabila ditinjau menurut standar WHO, hanya Provinsi Bali yang mempunyai status gizi berkategori baik dengan prevalensi stunting di bawah 20% (10,9%) dan wasting di bawah 5% (3%). 


Mengacu pada data di atas, maka dapat dikatakan permasalahan gizi seharusnya menjadi prioritas. Jika kondisi ini tidak segera ditangani bersama, maka juga akan berdampak buruk bagi negara hingga menimbulkan kerugian ekonomi negara 2-3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun,  atau sekitar 400 triliun rupiah per tahun. 


Keluarga merupakan ujung tombak perbaikan gizi anak. Namun faktanya, tingkat literasi gizi keluarga di Indonesia masih sangat rendah. Pada umumnya orangtua memberikan asupan makanan bagi anak berdasarkan pengalaman dan kebiasaan-kebiasaan di masyarakat. Selain itu iklan dan produksi pangan yang menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari baik televisi maupun melalui media sosial turut mempengaruhi pola konsumsi anak.  




Kental Manis Bukan Susu

Seperti halnya yang terjadi pada susu kental manis. Cara produk susu ini beriklan dan berpromosi selama bertahun-tahun telah mengakibatkan kesalahan persepsi masyarakat. Akibatnya tidak sedikit anak, balita bahkan bayi yang mengalami gangguan gizi akibat mengkonsumsi kental manis sebagai minuman susu. 




Sedikit cerita tentang kental manis ini, jujur saya waktu balita hingga usia 6 tahun sering minum  kental manis, padahal kental manis bukan susu. Waktu itu sudah lama sekali sekitar tahun 1980an. Berdasarkan pengalaman tersebut saya tidak mau mengulang hal yang sama pada anak saya. Anak harus minum susu anak. Dulu memang edukasi masih kurang 

Edukasi harus dilakukan oleh berbagai pihak, kental manis jadi salah satu penyebab stunting, diabetes dan permasalahan gizi.


Makna Literasi

- Kemampuan seseorang dalam mengelola dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. 

- Seperangkat kemampuan dan ketrampilan Individu dalam membaca, menulis dan berbicara, berhitung dan memecah masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. 

- Kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi dan menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengkomunikasikan untuk mengatasi persoalan (UNESCO 2003). 


Oleh karena itu diperlukan kolaborasi seluruh pihak dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai gizi anak. Lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu elemen yang dapat menjembatani antara orangtua dan anak PAUD sebagai lingkungan terdekat kedua bagi anak selain rumah. Dapat menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan pemahaman tentang makanan dan minuman yang bergizi kepada anak. 


Dengan memberikan pembekalan dan edukasi gizi kepada guru PAUD, diharapkan dapat  menjembatani kebutuhan orangtua akan informasi dan sekaligus menerapkan pembiasaan konsumsi makanan dan minuman bergizi oleh anak. 


Pimpinan Pusat Aisyiyah Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) saat ini membawahi 22.000 PAUD di seluruh Indonesia. Hal tersebut merupakan potensi bagi peningkatan literasi dan perbaikan gizi masyarakat dalam rangka memperluas jangkauan edukasi gizi untuk masyarakat. Dengan demikian kolaborasi edukasi gizi ini diharapkan dapat mendorong terwujudnya generasi emas 2045. 


Teman-teman yang ingin tahu lebih lengkap mengenai edukasi gizi anak, klik link https://youtu.be/2kEqD4ndmsc 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Komentar spam akan saya hapus.

Dinamika Perawatan diri dan Pencegahan Disabilitas pada Kusta di Lapangan

  Halo apa kabar? Pasti sudah sibuk semua nih, ada yang mudik, beberes rumah, bikin kue, bahkan ada yang sudah sampai kampung halaman. Kami ...