Minggu, 16 Februari 2020

Alat Kontrasepsi dan Efek Samping



Apa kabar ibu-ibu semua, sebagai kader PKK beberapa waktu lalu saya menghadiri acara penyuluhan kesehatan bersama BKKBN. Ada dokter yang menjelaskan mengenai alat-alat kontrasepsi. Tapi saya lupa nama dokternya karena saya datang ke lokasi acara bersama si kecil, yang berarti saya mendengarkan sambil menemani si kecil bermain. Kebetulan lokasi acara diadakan penyuluhan di RPTRA  sehingga si kecil senang. 

Apa saja kontrasepsi yang ada? Dan ada yang cocok saat saya gunakan beserta efek sampingnya. Menurut Bu Dokter, kontrasepsi ada yang bersifat sementara dan ada juga yang bersifat permanen. Kontrasepsi sementara hanya untuk menjaga jarak kehamilan, sedangkan kontrasepsi permanen biasanya dilakukan pada pasangan yang tidak ingin menambah momongan lagi. Pastinya ada banyak syarat dan pertimbangan untuk memutuskan mengambil tindakan kontrasepsi permanen, baik vasektomi pada pria maupun tubektomi/sterilisasi pada wanita.

Pil KB
Pil KB adalah kontrasepsi pertama yang saya kenal. Waktu itu pasca melahirkan anak pertama saya disarankan langsung KB. Padahal jika saya tahu saat itu ASI eksklusif sebenarnya tidak perlu KB. Karena memberikan ASI juga merupakan KB asal dengan catatan, bayi hanya minum ASI tanpa tambahan susu formula dan air putih, apalagi MPASI karena MPASI baru boleh diberikan setelah bayi berusia 6 bulan.

Pil KB terbagi menjadi 2 golongan, pertama yang mengandung hormon Progesteron dan yang mengandung hormon kombinasi Progesteron - Estrogen. 

Waktu itu tahun 2007, harga pil KB ini sangat murah hanya Rp 5000. Harus diminum rutin, supaya tidak lupa harus diminum pada jam-jam tertentu, misalnya menjelang tidur. Jika diminum secara rutin tingkat keberhasilannya cukup baik. Akan tetapi ada beberapa efek samping jika minum pil KB secara terus menerus.
Beberapa efek samping yang dapat ditimbulkan jika minum pil KB dalam jangka waktu lama: 
  • Berat badan terus meningkat.
  • Pendarahan secara tiba-tiba di luar waktu menstruasi.
  • Dapat mengganggu produksi ASI.
  • Sakit kepala dan rasa tidak nyaman pada payudara.
  • Meningkatkan risiko darah tinggi dan penyakit kardiovaskular.
  • Menimbulkan rasa mual dan juga dapat menyebabkan gairah seks menurun.
Saya sendiri saat menggunakan pil KB merasa haid tidak lancar, produksi ASI memang menurun, berat badan bertambah, dan sering pusing. Saya juga mempunyai keluhan kelenjar payudara sehingga merasa tidak nyaman. Saya menggunakan pil KB ini kurang lebih 1 tahun. 



Suntik KB
Setelah 1 tahun saya beralih ke KB suntik. KB suntik ini ada yang 1 bulan dan ada yang 3 bulan. Lebih praktis dibanding dengan pil KB, hanya saja efek sampingnya juga ada. Efek sampingnya kurang lebih sama dengan saat mengkonsumsi pil KB seperti berat badan bertambah, sakit kepala, jerawat saya semakin banyak, dan menstruasi sangat sedikit. Bahkan menurut sharing sesama ibu-ibu ada yang tidak menstruasi sama sekali selama menggunakan KB suntik ini. 

Implan/Susuk
Disebut juga norplant, kontrasepsi jenis ini dilakukan dengan cara penanaman benda kecil seukuran korek api ke dalam lengan bagian atas. Dengan jangka waktu untuk mencegah kehamilan selama 3 tahun. Saya belum pernah menggunakan kontrasepsi jenis ini, bukan karena harganya cukup mahal, akan tetapi karena takut. Saya pernah mendengar cerita beberapa ibu bekas penanam implan ini tidak bisa dihilangkan. Efek sampingnya juga sama ditambah akan sulit hamil kembali setelah implan dilepas. 

Untuk ibu menyusui kontrasepsi implan ini cukup dianjurkan karena tidak mengganggu produksi ASI. Efek samping lainnya dapat menyebabkan nyeri di lengan bagian atas, hampir semua jenis alat KB membuat menstruasi menjadi tidak teratur dan berat badan terus bertambah. 

Kondom
Kondom adalah alat kontrasepsi atau pencegah kehamilan yang terbuat dari karet atau latex berbentuk silinder dan biasa digunakan pada alat kelamin pria, meskipun ada juga kondom untuk wanita tapi saya belum pernah tahu. Efek sampingnya bisa bocor dan menyebabkan kehamilan jika tidak digunakan secara tepat . 

IUD/Spiral
Kontrasepsi ini sangat dianjurkan oleh bidan dan dokter. Saya ingat betul pasca melahirkan anak kedua langsung ditawari untuk memasang kontrasepsi ini. Tapi sayang sekali karena lagi-lagi saya penakut sehingga tidak mau menggunakannya. 

IUD bisa mencegah kehamilan dalam waktu cukup lama, juga tidak memerlukan perawatan yang rumit, dan tingkat kegagalan yang rendah, sehingga banyak diminati banyak pasangan. IUD dipasang di dalam rahim untuk menghadang sel sperma menembus sel telur. Ada 2 jenis IUD, terbuat dari tembaga yang bisa bertahan hingga 10 tahun, dan IUD yang mengandung hormon dapat bertahan hingga 5 tahun. 

Efek samping dari IUD di antaranya: 
  • Dapat lepas atau bergeser, jika lepas biasanya keluar bersama darah haid. Tapi cerita yang beredar biasanya macam-macam yang membuat saya makin tidak mau menggunakan kontrasepsi ini 😁.
  • Kram perut atau rasa sakit pada bagian perut.
  • Menstruasi tidak teratur, ada juga ibu-ibu yang mengeluh haidnya jadi terlalu banyak.
  • Dapat terjadi infeksi jika tubuh menolak keberadaan IUD.
Tapi banyak juga teman-teman saya sesama ibu-ibu yang merasa cocok dengan IUD ini. Jadi sebaiknya konsultasikan saja dengan dokter tentang KB apa yang cocok ya buibu, jangan ngikutin saya 😁. 

Vasektomi
Vasektomi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghentikan aliran sperma, dengan cara menutup saluran vas deferens pada pria. Ini memerlukan tindakan medis atau operasi dan ini bersifat permanen. Hmmm saya tidak yakin banyak pria mau melakukan tindakan ini, meskipun tindakan ini tidak menyebabkan gairah seks menurun dan mengurangi kemampuan ereksi. Apalagi jika membaca efek samping vasektomi ini, pastinya kalian memilih kontrasepsi lain, nyuruh ibu-ibu saja kan yang KB 🤔.
Efek samping dari vasektomi di antaranya:
  • Infeksi pasca operasi.
  • Perasaan tidak nyaman pasca operasi. 
  • Memar pada testis beberapa bulan pasca operasi.
  • Pendarahan atau pembekuan darah pada area testis. 
  • Bisa terdapat darah pada air mani.

Tubektomi
Tubektomi  adalah tindakan KB permanen atau  sterilisasi pada perempuan yang dilakukan dengan cara memotong atau tuba falopi sehingga sel telur tidak masuk ke dalam rahim, sekaligus menghalangi sperma masuk ke dalam tuba falopi. Sama seperti vasektomi, ini adalah tindakan operasi. Biasanya jika ibu-ibu sudah memiliki anak 4 dan selalu gagal menggunakan kontrasepsi lain akan dianjurkan untuk melakukan sterilisasi. Syaratnya usia harus di atas 35 baru boleh dilakukan tindakan sterilisasi ini. 

Efek sampingnya beberapa teman mengeluhkan infeksi pasca operasi, nyeri pada panggul atau perut, pendarahan, komplikasi, dan ada juga yang mengalami kehamilan ektopik. 

Efek samping dan rasa nyaman menggunakan kontrasepsi setiap individu pastinya berbeda ya buibu. Ada yang cocok dan ada yang tidak. Jadi sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter kandungan atau bidan terlebih dahulu. Bisa jadi pengalaman kita berbeda. Tapi yang terpenting mau menggunakan kontrasepsi atau tidak itu adalah hak kita dan tidak ada yang boleh memaksa. 

1 komentar:

  1. Saya menemukan posting ini dari Google dan sangat kagum dengan informasi Anda! Anda telah melakukan pekerjaan yang fantastis. Artikel Anda sangat informatif, Saya akan membookmark dan kembali ke sini lain kali untuk membaca lebih lanjut. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk menulis semua ini.

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Komentar spam akan saya hapus.

Kebun Singkong

Mengenang  masa kecil saya sekitar tahun 1990 an. Di sekitar rumah saya masih banyak sekali kebun sayur mayur dan juga kebun Singkon...