Minggu, 13 Mei 2018

Periksa Lupus Sendiri (SALURI)


Salam sehat selalu, jika mendengar kata Lupus apa yang kalian pikirkan? Beberapa tahun lalu sepupu saya meninggal. Saya bertanya sakit apa, dan kata keluarga dekatnya bahwa dia terkena penyakit Lupus. Waktu itu saya hanya tahu lupus adalah penyakit langka. Tanggal 8 Mei 2018 lalu saya hadir di acara *Media & Blogger Briefing – Peringatan Hari Lupus Sedunia 2018* dengan tema *Periksa Lupus Sendiri (SALURI) – Memahami Program Deteksi Dini Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik (LES)* bertempat di Kementerian Kesehatan RI Ruang Serba Guna lantai 4 Gedung D Direktorat Jenderal P2PTM Jl. Percetakan Negara No. 29 Jakarta Pusat (Depan Rutan Salemba).


Lupus atau penyakit autoimun yang merupakan kondisi saat sistem imunitas atau kekebalan tubuh seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan substansi asing dengan sel dari jaringan tubuh sendiri. Kondisi ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang sel, jaringan dan organ tubuh yang sehat. Apa saja gejala penyakit lupus? Dan bagaimana agar kita terhindar dari penyakit tidak menular ini? Berikut saya rangkum berdasarkan apa yang saya dengar, juga berdasarkan informasi dari para ahlinya.
Narasumber yang hadir saat acara berlangsung:
  • dr. Asjikin Iman Hidayat Dachlan, MHA selaku Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI.
  • dr. Sumariyono, spPD-KR Divisi Reumatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM.
  • Tiara Savitri selaku Orang Dengan Lupus.

Lupus terdiri dari beberapa macam jenis, salah satu jenis yang paling sering dirujuk masyarakat adalah Lupus Eritematosus Sistemik (LES). LES dikenal sebagai penyakit seribu wajah merupakan penyakit inflamasi autoimun kronis yang hingga kini belum jelas penyebabnya. LES juga memiliki sebaran gambaran klinis. LES dapat menyerang organ tubuh mana saja dengan tingkat gejala ringan hingga berat. Sebagian besar penderita lupus adalah  perempuan dari kelompok usia produktif 15-50 tahun, meski begitu lupus juga dapat menyerang laki-laki, anak-anak, dan remaja.

Ada beberapa faktor yang memegang peran penting sebagai pemicu LES di antaranya:
  1. Faktor genetik biasanya pasien LES memilik keluarga dekat (orang tua atau saudara kandung) yang juga didiagnosis LES.
  2. Faktor lingkungan seperti infeksi, stress, makanan, antibiotik (khususnya kelompok sulfa dan penisilin), cahaya ultraviolet (matahari), penggunaan obat-obat tertentu, merokok, paparan kristal silica.
  3. Faktor hormonal umumnya perempuan lebih sering terkena penyakit LES dibandingkan laki-laki. Meningkatnya angka pertumbuhan penyakit LES sebelum periode menstruasi atau selama kehamilan mendukung dugaan hormon estrogen menjadi pencetus penyakit LES.


LES memiliki gejala yang mirip dengan penyakit lain, sehingga sulit untuk dideteksi. Gejala LES dapat timbul tiba-tiba atau berkembang perlahan. Oleh karena itu penting sekali mengenali gejala LES. Kementerian Kesehatan RI mencanangkan program deteksi dini LES yang disebut dengan Periksa Lupus Sendiri (SALURI). SALURI dapat dilakukan di Pos Pembinaan Terpadu  (POSBINDU), Puskesmas atau di sarana pelayanan kesehatan lainnya dengan cara mengenali gejalanya.
Berikut ini adalah gejala LES:
  1. Demam lebih dari 38°C dengan sebab tidak jelas
  2. Rasa lelah dan lemah berlebihan
  3. Sensitif terhadap sinar matahari
  4. Rambut rontok
  5. Ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu dari hidung ke pipi
  6. Ruam kemerahan di kulit
  7. Sariawan tidak kunjung sembuh terutama di atap rongga mulut
  8. Nyeri dan bengkak pada persendian terutama di lengan dan tungkai, menyerang lebih dari dua sendi dalam jangka waktu lama
  9. Ujung-ujung jari tangan dan kaki pucat hingga kebiruan saat udara dingin
  10. Nyeri dada terutama saat berbaring dan menarik nafas panjang
  11. Kejang atau kelainan saraf lainnya
  12. Kelainan hasil pemeriksaan laboratorium (atas anjuran dokter):
  • Anemia: penurunan kadar sel darah merah
  • Leukositopenia: penurunan sel darah putih
  • Trombositopenia: penurunan kadar pembekuan darah
  • Hematuria dan proteinuria: darah dan protein pada pemeriksaan urin
  • Positif ANA dan atau Anti ds-DNA

Nah jika ada tetangga, kerabat atau keluarga yang mengalami minimal 4 gejala dari keseluruhan gejala di atas, maka sebaiknya segera ke dokter di Puskesmas atau rumah sakit agar dapat segera dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Agar dapat meningkatkan dan mempertahankan kualitas  hidup, sehingga bisa hidup normal dan melakukan kegiatan sehari-hari pasien yang didiagnosa menderita LES harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  • Hindari aktivitas fisik yang berlebihan
  • Hindari merokok
  • Hindari perubahan cuaca karena mempengaruhi proses inflamasi
  • Hindari stres dan trauma fisik
  • Diet khusus sesuai organ yang terkena
  • Hindari paparan sinar matahari secara langsung, khususnya UV pada pukul 10.00 hingga 15.00
  • Gunakan pakaian tertutup dan tabir surya minimal SPF 30PA++ 30 menit sebelum meninggalkan rumah
  • Hindari paparan lampu UV
  • Hindari pemakaian kontrasepsi atau obat lain yang mengandung hormon estrogen
  • Kontrol secara teratur ke dokter
  • Minum obat secara teratur



Ternyata hingga saat ini LES belum dapat disembuhkan. Tujuan pengobatan adalah untuk mendapatkan remisi panjang, mengurangi tingkat gejala, mencegah kerusakan organ, serta meningkatkan kesintasan. Berkat teknologi pengobatan yang terus berkembang, sebagian penderita LES dapat hidup normal atau setidaknya mendekati tahap normal. Dukungan keluarga dan teman juga berperan penting dalam membantu penderita LES dalam menghadapi penyakitnya.

Ada mbak Tiara Savitri yang hadir, dia tetap bisa hidup normal dan banyak melakukan kegiatan positif walau hidup dengan Lupus. Mbak Tiara berpesan agar dia jangan disebut penderita, tapi cukup ODAPUS (Orang Dengan Lupus).

Oh iya teman-teman jangan lupa CERDIK agar keluarga kita terhindar dari penyakit LES.
C = Cek Kesehatan Secara Berkala
E = Enyahkan Asap Rokok
R = Rajin Aktifitas Fisik
D = Diet Seimbang
I  = Istirahat Cukup
K = Kurangi Stres

5 komentar:

  1. Wah, info yang sangat bermanfaat ini mba :)
    Sebelum membayar mahal ternyata kita sehat, mendingan periksa lupus sendiri, semoga kita diberikan kesehatan ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mba , semoga sehat selalu

      Hapus
  2. Serem jg ya pnykt lupus.
    Dulu prnh bc kisahnya mba Tiara, ya Allah semoga kita semua selalu diberikan kesehatan ya,,aamii a

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Tiara hebat bisa bertahan dengan lupus

      Hapus
  3. Ya alloh setiap dengerr kata Lupus, aku inget temenku yang meninggal karena itu mba. Sedih banget rasanya. Moga kita semua makin aware sama Lupus ya

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Komentar spam akan saya hapus.